Sambutan
Pemimpin BI Medan |
 |
Laporan Panitia
Pada Acara “PEMBUKAAN SHARIAH FAIR DAN BAZAR UMK”
OLEH PENANGGUNGJAWAB SHARIAH FAIR DAN BAZAR UMK 2007
/PEMIMPIN BANK INDONESIA MEDAN
/KOORDINATOR BANK INDONESIA WILAYAH SUMUT & NAD
Medan, 14 Januari 2007
|
|
“SELAMAT DATANG TAHUN PENUH HARAPAN, MARI KITA MENUKIKKAN PERHATIAN PADA TINGKAT MIKRO DAN LEBIH BERSUNGGUH DENGAN UMK”
Yang saya hormati,
- Wakil Presiden Republik Indonesia, Bpk. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
beserta Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla
- Bpk. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI
- Bpk. Gubernur Bank Indonesia
- Bpk. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas
- Bpk. Menteri Perindustrian
- Bapak Menteri Koperasi dan UKM
- Bapak Gubernur Sumatera Utara
- Bapak Walikota Medan
- Rektor IAIN Sumut
- Kawan-kawan dari media massa, Panitia, serta Undangan
- Dan yang saya banggakan saudara-saudaraku para saudagar peserta Bazar UMK, Taam Laziz dan Plaza Jongkok
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat Pagi dan Salam sejahtera bagi kita semua,<
Pada tempatnyalah kalau pada pagi ini kita mengucap syukur ke hadirat Allah S.W.T Kita bersyukur,
karena kita baru saja melewati tahun 2006 yang sesungguhnya dengan sebuah prestasi yang menggembirakan secara makro,
walapun penuh dengan berbagai persoalan, kegalauan, dan tantangan. Hanya saja sebagian anak bangsa, khususnya
sebagian kecil pengamat dan elit politik vokalist di pusat termasuk sebagian para sesepuh kita cenderung
melihat dan menyorakkan sisi negatif perjalanan bangsa, bukan yang positifnya.
Bukan prestasi tapi permasalahan. Mereka cenderung memandang gelas setengah kosong, bukan setengah penuh. Kami, khususnya masyarakat di daerah bersyukur, karena ada kinerja makro yang menggembirakan selama tahun 2006 dan apabila kita mampu mempertahankan kondisi makro paling kurang seperti tahun 2006, insya Allah di depan kita masih terbentang tahun-tahun penuh harapan bagi kita semua untuk terus berusaha dan berkarya mencapai hasil yang lebih baik lagi. Dan mari kita menukikkan perhatian kita pada tingkat mikro dan lebih bersungguh dengan UMK.
Bapak dan Ibu yang saya muliakan,
Tahun 2006 ditandai oleh prestasi makro walaupun kita lalui dengan begitu banyak peristiwa, penuh tantangan dan cobaan. Secara makro, ekonomi, baik di tingkat nasional maupun regional mencatat perkembangan yang menggembirakan setelah sempat tertatih-tatih di awal tahun. Melalui pendekatan inflation targeting, Inflasi telah berhasil dikendalikan dibawah 1 digit, BI Rate yang turun secara signifikan telah diikuti oleh bunga kredit bank yang semakin menurun. Pertumbuhan kredit mulai membaik mencapai 12 s/d 13% di tahun 2006 dan diharapkan dapat mencapai 18% tahun 2007. Nilai tukar Rupiah yang terus menguat dengan volatilitas yang cukup stabil pada kisaran 9000an, hingga prestasi pasar modal Indonesia sebagai pasar modal teraktif dan terbaik ketiga di Asia di akhir tahun 2006. Semua patut kita syukuri.
Namun demikian, dengan bekal stabilitas ekonomi makro tersebut, masih banyak tantangan di tahun 2007 ini yang harus kita hadapi. Di sektor riil, kualitas dan tingkat kesejahteraan rakyat kecil masih jauh dari yang kita harapkan. Geliat ekonomi kerakyatan yang mampu mendorong sektor riil perlu mendapat perhatian utama dan kepedulian yang nyata dari kita semua. Kita perlu menukikkan perhatian kita pada tingkat mikro. Data BPS menunjukkan bahwa secara nasional terdapat 17,66% rakyat miskin dan 7% diantaranya hidup dengan penghasilan di bawah 9000 rupiah perhari. Bahkan menurut Bank Dunia, 109 juta rakyat Indonesia masih hidup dengan uang hanya 2 dollar perhari. Di Sumatera Utara sendiri, jumlah rakyat miskin mencapai 15,80% atau hampir 2 juta penduduk miskin dan tingkat pengangguran sebesar 11,51%. Lebih tinggi dari tingkat pengangguran nasional sebesar 10,28%. Pendek kata, masalah kemiskinan dan pengangguran harus menjadi perhatian sangat khusus mulai tahun 2007. Dan perbankan tentunya harus lebih berperan untuk membantu mengentaskan kemiskinan itu.
Bapak dan Ibu yang saya hormati,
Dengan uraian pendek di atas, tampak semakin nyata kestabilan ekonomi makro yang telah kita capai di tahun 2006 hendaknya jangan membuat kita lekas berpuas diri. Ia hanya menjadi langkah awal bagi kita untuk bersama-sama memanfaatkan kestabilan tersebut membangun ekonomi bangsa. Kita semua tentunya menyadari bahwa ketika kita berbicara kesejahteraan, utamanya kita harus berbicara pengentasan kemiskinan terlebih dulu. Dan ketika kita bicara kemiskinan,kita harus menukikkan perhatian kita pada level akar rumput. Rakyat kecil yang miskin dan hampir miskin. Saya mengimani bahwa kemiskinan tak akan hilang tanpa sebuah kesungguhan. Ia tak akan pergi tanpa suatu cara yang tersistem. Tak mungkin dengan cara sporadis. Dari pemerintah pusat, kita bersyukur ada anggaran untuk tiap-tiap daerah untuk mengentaskan kemiskinan. Tapi tanpa cara yang tersistem di daerah, tanpa mengedepankan peran UMK, uang yang cukup besar tersebut, nantinya akan hilang begitu saja dan kita kembali menemukan angka-angka kemiskinan seperti sekarang pada tahun-tahun yang akan datang. Jumlah orang miskin dan mendekati miskin akan tetap besar atau semakin lebih besar. Sehubungan dengan pemikiran di atas, setelah melalui pembahasan dengan berbagai pihak terkait, Bank Indonesia Medan dan perbankan bersama Pemda Sumatera Utara mengupayakan terlaksananya program bertajuk “Lebih Bersungguh dengan UMK”.
Tujuan utamanya adalah meningkatkan peran perbankan dalam mendukung UMK sehingga kontribusi perbankan dalam membantu upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan akan semakin berarti. Dalam program “Lebih Bersungguh dengan UMK” diyakini bahwa kemiskinan akan bisa dikurangi dengan pendekatan tersistem yang di Sumut dikenal dengan istilah Dalihan Natolu (Batak) atau Singkep Sitolu (Karo) atau Tali Tigo Sapilin (Minangkabau). Konsep Dalihan Natolu adalah upaya sinergis antara tiga komponen penting yang tak bisa dipisahkan untuk mewujudkan sesuatu yang baik. Semakin sinergi ketiga komponen itu, akan semakin optimal hasilnya. Dengan pemikiran bahwa kestabilan makro adalah conditio sine quanon, Dalihan Natolu taskin adalah:
1) Meningkatkan kemampuan berusaha (capacity building),
2) Mendorong terciptanya peluang usaha utamanya UMK, dan
3) Menyediaan dana saudagar (bukan dana konsumtif)
Tak mungkinlah kemiskinan akan terentaskan tanpa cara yang tersistem. Tak mungkin pula ia akan pergi tanpa fokus dan kesungguhan. Fokus kami di Sumut adalah UMK dengan konsep Dalihan Natolu. Yaitu mendorong dan membantu orang-orang yang mau berusaha produktif baik dari : (1) peningkatan kemampuan, (2)penciptaan kesempatan dan (3) penyediaan akses dana perbankan. Karena kalau orang miskin diberi uang, itu hanya akan membantu untuk kelangsungan hidup mereka sementara. Untuk kelompok sangat miskin atau miskin absulut ini tetap diperlukan. Walaupun bantuan itu akan berdampak sangat sementara pula. Tapi sesungguhnya bagi mereka yang memiliki kemampuan atau potensi untuk berusaha (berdagang atau berbisnis), kami meyakini caranya harus tersistem dengan pendekatan Dalihan Natolu diatas.
Sebagai langkah awal, untuk itulah kami bersama Pemko Medan dan IAIN menggagas Shariah Center ini. Konsep Dalihan Natolu atau Tali Tigo Sapilin inilah yang menjadi petimbangan utama kami. Perlu ada sistem. Dan ada kesungguhan. Dan sebagai kegiatan pertama, kami mengadakan Shariah Fair dan Bazar UMK ini. Melalui shariah Center ini nantinya, kami dari Bank Indonesia, khususnya di Sumut dan NAD akan berupaya mendorong perbankan untuk lebih memfokuskan diri dan bersungguh dengan kredit atau pembiayaan produktif dan tidak lagi jor-joran untuk kredit konsumtif. Khususnya lagi dalam membina para saudagar yang kita sebut pelaku UMK yang telah terbukti merupakan sektor informal dan formal yang sangat ampuh untuk menciptakan lapangan kerja.
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah: Mengapa kami lebih fokus pada perbankan shariah? Alasannya sangat sederhana. Karena fakta di lapangan, khususnya di Sumut dan NAD menunjukan bahwa perbankan shariah lebih dekat dan lebih fokus pada UMK.
| INDIKATOR |
BANK SYARIAH |
BANK UMUM |
| Loan to Deposit Rasio / LDR |
105% |
56% |
| Non Performing Loan / NPL |
2,3% |
10,71% |
| Usaha Mikro dan Kecil |
100% |
15% |
Kredit (pembiayaan) perbankan shariah 100% untuk UMK. Mereka mampu menyalurkan kredit UMK dengan LDR mencapai 105%. Artinya seluruh dana masyarakat yang dikumpulkan melalui tabungan, deposito dan giro dikembalikan lagi kepada masyarakat melalui kredit. NPL perbankan shariah di Sumut hanya 2,3%. Berarti rakyat Sumut yang meminjam uang dari perbankan shariah terbukti lebih rajin membayar utang. Pendek kata, untuk rakyat kecil atau ekonomi kerakyatan, perbankan shariah ternyata paling sesuai. Ternyata paling cocok. Oleh karena itu, mulai tahun 2007, walaupun secara keseluruhan Bank Indonesia Medan/Koordinator Wilayah Sumut dan NAD akan tetap memberikan perhatian khusus untuk mendorong seluruh bank yang beroperasi di Sumut dan NAD untuk meningkatkan kredit produktif kepada pelaku UMK, tapi perbankan shariah perlu mendapat dukungan kita semua. Perlu kita sambut sebagai bank sahabat UMK. Hanya saja pangsa pasarnya masih sangat kecil. Assetnya baru mencapai 1,27% dari asset perbankan Sumut. Sehubungan dengan itu, kami meluncurkan program bertajuk “Lebih Bersungguh dengan Perbankan Shariah” sehingga peran bank shariah yang selama ini sangat kecil dapat ditingkatkan. Ini dilakukan karena tetap didasari oleh pemikiran bahwa kita sebagai bangsa mmembutuhkan sebuah kesungguhan. Mohon dukungan dan doa agar kegiatan awal ini mampu menggugah geliat ekonomi shariah di Sumatera Utara dan NAD pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
Bapak dan Ibu yang terhormat,
Pertemuan hari ini memiliki makna yang sangat penting bagi kita semua di sini, khususnya bagi kami dari Bank Indonesia dan perbankan, bersama dengan Pemerintah Kota Medan dan IAIN yang telah berupaya menggagas terselenggaranya
“Shariah Fair & Bazar Usaha Mikro dan Kecil (UMK)” ini. Yang paling membahagiakan, guliran ide pelaksanaan Shariah Fair & Bazar UMK ini ternyata mendapat respon yang cukup baik, perhatian yang mendalam, serta partisipasi yang sangat aktif dari berbagai pihak, khususnya dukungan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (PEMPROVSU), Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) dan Badan Musyarawah Perbankan Sumut (BMPD), Media massa, lembaga-lembaga peduli UMK lainnya, hingga mendapatkan atensi dan perhatian dari Bapak Wakil Presiden yang telah berkenan untuk secara langsung membuka kegiatan ini. Berkenaan dengan itu, pada kesempatan ini pula, secara khusus kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas bantuan serta kerjasama yang selama ini telah kita semua lakukan demi terselenggaranya kegiatan Shariah Fair & Bazar UMK ini. Kami juga sangat berterima kasih kepada para sahabat media massa yang telah mempromosikan acara ini secara luas.
Bapak dan Ibu yang saya muliakan,
Kegiatan Sharian Fair dan Bazar UMK ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam rangka bersungguh dengan UMK dan membantu mengentaskan kemiskinan dengan cara:
a. Mempromosikan kegiatan perbankan shariah agar perannya dalam menumbuhkan UMK di Sumut dan NAD semakin besar
b. Mendorong perbankan konvensional meningkatkan pangsa pasar kredit produktif khususnya UMK
c. Mendorong dan membantu mengembangkan UMK agar bisa memiliki akses modal ke perbankan
d. Membangun brand (branding) makan lezat (Taam Laziz) Kota Medan dan kemudian mempersiapkan perolehan akses modal ke perbankan
e. Menjadikan sektor informal (kaki lima) sebagai bagian dari upaya membantu mengentaskan kemiskinan
Dapat kami informasikan pula bahwa Shariah Fair & Bazar UMK ini diikuti oleh 7 Bank Umum Shariah dan 3 BPRS, 30 Bank Umum Konvensional, 51 pelaku UMK yang nantinya diharapkan dapat dihubungkan ke bank, 23 pemilik makanan lezat (Taam Lazis) yang juga diharapkan dapat dikembangkan oleh perbankan serta 125 saudagar dari sektor informal atau yang dikenal dengan pedagang kaki lima. Kami berharap semoga kegiatan Shariah Fair & Bazar UMK ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita semua, serta secara lebih bersungguh dapat mendorong “Geliat Ekonomi Shariah Sumut pada khususnya dan Indonesia pada umumnya”.
Melalui Shariah Fair dan Bazar UMK ini, kami ingin mengucakpakn terima kasih dan penghargaan danterimakasih:
1. Terima kasih kepada bapak Wakil Presiden dan Ibu Jusuf Kalla beserta para mentri dan pejabat lainnya yang telah meluangkan waktu untuk meresmikan Shariah fair dan Bazar UMK ini.
2. Terima kasih kepada Gubernur Bank Indonesia yang mendorong kami di daerah untuk lebih bersungguh dengan ekonomi kerkayatan, untuk membuat kehadiran BI di daerah lebih bermakna.
3. Terima kasih kepada Gubernur Sumut dan seluruh jajaran Pemprovsu yang memiliki visi yang sama tentang UMK.
4. Terima kasih kepada Pemko Medan dan seluruh jajarannya yang ternyata sangat komit dengan ekonomi umat.Dan segala bantuan yang membuat tempat ini menjadi nyaman dan dapat digunakan untuk acara khsusus untuk umat ini.
5. Terima kasih kepada rektor dan seluruh civitas akademika IAIN yang menyediakan lokasi kampus ini untuk menjadi tempat Shariah Fair dan Bazar UMK dan nantinya memberikan dukungan dalam mengembangkan SDM perbankan shariah.
6. Terima kasih banyak kepada kawan-kawan dari 3 Bank Umum Shariah dan 2 BPRS yang ikut acara Gebyar Shariah dengan menawarkan kredit (Pembiayaan) tanpa agunan kepada pelaku UMK. Ini pantas dicatat karena masalah utama pelaku UMK adalah tak punya agunan. Terima kasih Bank Sumut Shariah, Bank Shariah Mandiri dan Bank Muamalat. Dan juga BPRS Paduarta dan BPRS Gebu Prima. Anda adalah pahlawan UMK.
7. Terima kasih kepada PT. Telekom yang sudah menyiapkan rancangan website UMK Sumut dan menyediakan fasilitas internet setengah harga dan nantinya juga merencanakan untuk mengadakan teknologi Cyber cafe di Taam Laziz ini.
8. Kepada rekan-rekan perbankan Sumut yang telah berpartisipasi dalam acara ini dan akhirnya kepada para saudagar, pelaku UMK dan semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara ini, saya aturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Dan mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan dalam penyelenggaraan acara untuk umat ini.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dr. Romeo Rissal Pandjialam
Penanggung Jawab Shariah Fair dan Bazar UMK 2007
back
to top
|